Mendidik dan Mempersiapkan Anak menjadi Hafidz

Hubungi Kami Di ? 0721-785652

Mendidik dan Mempersiapkan Anak menjadi Hafidz

Senin, 18 Februari 2019 - 12:01:57 / 1

Allah Taala telah memberitahukan kepada kita bahwa Ia telah menurunkan Alquran dan Ia pula yang akan menjaganya. Di antara cara penjagaan Alquran adalah para hafidz yang terlahir di berbagai penjuru dunia. Mereka ada yang terlahir sebagai kulit hitam, putih, sawo matang, dan lainnya. Ada pula yang menjadi hafidz di usia senja bahkan ketika masih balita.

Tentu saja menjadi impian setiap muslim untuk dapat menghafal Alquran. Atau mendampakan anak-anaknya menjadi seorang hafiz. Lalu, bagaimana mempersiapkan diri atau anak untuk menjadi seorang hafiz?

Ustaz Bitoh Purnomo, Lc. Menjawab permasalahan tersebut dalam pengajian bulanan keluarga besar Ar Raihan Islamic School di kesempatan yang lalu. Ia menjelaskan setidaknya terdapat 5 hal yang perlu disiapkan untuk menjadi hafiz atau memiliki keturunan yang hafidz. Mengingat pengajian tersebut terfokus pada pendidikan anak, maka tips yang beliau sampaikan adalah kiat mempersiapkan anak menjadi seorang hafidz.

Keinginan yang kuat dari orangtua

Orangtua memegang peran yang sangat besar dalam pembelejaran putra-putrinya untuk menjadi seorang hafidz. Dari sisi ruhiyah, orangtua harus istiqomah dan mendekatkan diri kepada Allah, mendoakan putra-putrinya, dan rido kepada mereka untuk menjadi seorang hafidz. Selain ketulusan doa dan rido, orangtua dituntut menjaga kualitas hidup putra-putrinya. Seperti menjaga pergaulan, melatih kedisiplinan, murojaah, dan lainnya.

Menjaga daging yang tumbuh pada anak

Sudah sepatutnya orangtua menjaga betul nafkah yang dikaisnya terjauh dari perkara-perkara yang subhat apalagi yang haram. Mempersiapkan anak menjadi hafidz berarti menjaga anak dari asupan makanan atau minuman yang haram, baik secara langsug maupun tidak langsung.

Ada sebuah kisah yang bisa diambil ta’birnya. Kisah ini tentang orangtua Imam Syafi’i yang menitipkan anaknya kepada tetangganya. Pada saat itu, Syafi’i kecil menangis dan tak kunjung berhenti. Sementara kedua orangtuanya tidak kunjung pulang. Tetangganya pun mengambil inisiatif untuk menyusui Syafi’i kecil.

Ketika orangtuanya pulang si tetangga menceritakan perihal peristiwa tersebut. Setelah kembali di rumah, ayah Imam Syafi’i memasukkan jarinya ke mulut Syafi’i kecil hingga muntah. Alasan ayah imam Syafi’i melakukan hal tersebut karena tetangganya adalah seorang penggembala kambing. Terkadang kambingnya masuk ke kebun orang lain dan memakan rumput di sana tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Begitulah cara orangtua Imam Syafi’i menjaga keluarganya dari makanan dan minuman yang haram bahkan makanan yang subhat.

Memperdengarkan Alquran sejak dalam kandungan

Ada banyak cara memperdengarkan Alquran kepada janin. Namun, yang paling utama adalah bacaan langsung dari orangtuanya. Meskipun tidak menutup kemungkinan untuk memperdengarkan Alquran melalui audio player. Semakin sering diperdengarkan semakin baik untuk perkembangan janin.

Menyusui anak dalam keadaan suci

Mengingat ASI adalah asupan utama bagi anak alangkah baiknya menjaga diri dan cara menyusui anak. Utamanya adab menyusui adalah dalam keadaan suci. Bagaimana dengan bunda yang sedang haid? Disarankan untuk tetap bersuci dengan niat mengambil barakah dan manfaat dari berwudu, bukan untuk menghilangkan hadas.

Mencintai Ahlul Quran

Mencintai para ahlul Quran bisa diekspresikan dalam berbagai cara. Bisa melalui silaturrahim dan meminta doanya secara langsung. Bisa juga dengan berbagi rejeki dan infaq. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas kemulyaan yang telah Allah taala anugerahkan kepadanya.

Kiat-kiat di atas perlu menjadi perhatian bagi setiap orangtua sehingga mempermudah jalan pendidikan putra-putrinya untuk mejadi seorang hafidz. Wallahua’lam.

Cari Info

Kategori